Paulus Winarto

Paulus Winarto

John Maxwell Indonesia | Be The Best You Can Be

  • Home
  • About
  • Free Resources
    • Audio Lesson
    • Catatan Kecil
    • Free Article
    • My Spiritual Journey
    • Melejit di Usia Muda
    • Video
  • Event
  • Program Radio
  • Photo
  • Tes Talenta
  • Our Clients
  • Online Shop
  • Contact Us
You are here : Paulus Winarto » Tag for maximize talent
Jun 14

MAXIMIZE YOUR TALENT (02)

Published By martin under Free Resources, Melejit di Usia Muda  Tags: maximize talent, motivasi, Renungan  

Oleh: Paulus Winarto*

 

Sekarang mari kita bicara lebih jauh mengenai talenta dalam kehidupan setiap manusia. Untuk selanjutnya, kata talenta lebih saya maksudkan sebagai potensi diri. Secara pribadi, saya percaya bahwa setiap manusia memiliki talenta. Tentu setiap orang memiliki talenta yang berbeda-beda. Secara umum, talenta dapat kita bagi dalam tiga kelompok besar, yaitu:

1. Bakat alam (natural talent).

Bakat alam ini sudah dibawa sejak seseorang lahir ke dunia ini. Bakat alam seorang anak biasanya telah terlihat dengan jelas ketika ia masih kanak-kanak. Pernahkah Anda melihat seorang anak berumur tiga tahun yang suka sekali bernyanyi padahal ia belum fasih mengucapkan kata-kata dengan benar? Atau seorang anak kecil yang selalu dengan mudah menarik perhatian anak-anak lainnya (yang semula belum dikenalinya) jika berada di tempat umum?

2. Ketrampilan (skill).

Dalam hidup ini ada banyak sekali ketrampilan yang bisa kita pelajari, misalnya menyetir mobil, mengoperasikan sebuah mesin, atau menggunakan computer. Ketrampilan-ketrampilan seperti ini biasanya bisa kita dapatkan lewat proses pembelajaran, seperti lewat pengalaman pribadi, atau mengikuti kursus-kursus atau kita dibimbing oleh seorang mentor yang handal sehingga kita pun memiliki ketrampilan seperti mentor tersebut.

3. Karunia rohani (spiritual gift).

Berbeda dengan bakat alam dan ketrampilan, karunia rohani tidak kita dibawa sejak lahir. Karunia rohani biasanya diberikan ketika seseorang sungguh bertobat dan menyerahkan hidupnya untuk melayani Tuhan. Ia tidak lagi mencari pujian untuk dirinya namun ingin menyatakan kebesaran dan kemuliaan Tuhan melalui karya nyata dalam hidupnya. Jika seseorang menerima karunia rohani dan terus mengembangkannya maka dampaknya akan sangat luar biasa dan sering di luar jangkauan pikiran manusia sebab Tuhan berkarya secara nyata. Ada beberapa buku yang secara detil membahas mengenai karunia rohani (dan memberikan alat bantu berupa tes untuk mengetahui karunia rohani), misalnya Understanding Your Spiritual Gifts (Dr. Bruno Caporrimo) dan Mengenal Karunia Roh Kudus (Kenneth E. Hagin).

HAMBATAN PENEMUAN TALENTA

Meski setiap manusia diberikan talenta yang khusus namun terkadang sangatlah tidak mudah bagi seseorang untuk mengetahui secara jelas apa saja talenta dalam hidupnya. Barangkali itu pula sebabnya seorang remaja kerap mengalami kebingungan ketika ia akan memilih jurusan saat di sekolah menengah umum (SMU) atau memilih jurusan ketika akan masuk perguruan tinggi. Terkadang baru pada saat usia lanjut seseorang bisa secara persis mengetahui talenta hidupnya.

Memang menemukan talenta itu tidak mudah bagi sebagian besar manusia. Berbagai macam tes, termasuk psikotes hingga tes minat dan bakat terkadang bisa membantu namun tidak selalu akurat. Di sisi lain ada sejumlah hambatan yang akan semakin mempersulit bagi seseorang untuk menemukan talentanya, seperti:

  • Tidak mau menerima diri apa adanya.

Ada banyak hal dapat hidup ini yang bisa kita ubah namun ada juga hal yang tidak bisa kita ubah. Khusus untuk hal-hal yang tidak bisa kita ubah, kita harus menerimanya. Jika tidak, kita akan terus dilanda perasaan minder atau bahkan penghakiman terhadap diri sendiri. Sungguh, adalah sebuah langkah besar dan berani dalam hidup setiap manusia ketika ia mulai bisa melihat secara jelas kelebihan serta kekurangannya, kemudian berkomitmen untuk mengembangkan kelebihannya serta menerima kekurangannya. Saya selalu percaya, Tuhan tidak pernah menutup satu pintu tanpa Ia membuka pintu lainnya. Sayangnya, manusia kerap terpaku dan menangisi pintu yang telah tertutup itu sehingga ia tidak sempat melihat pintu lain yang telah dibukakan baginya.

  • Terus-menerus iri kepada orang lain.

Barangkali Anda pernah melihat orang yang senantiasa memberikan komentar negatif terhadap prestasi yang diraih oleh orang lain. Komentar negatif ini bisa jadi timbul dari rasa iri. Ada yang berkata kalau iri adalah tanda tidak mampu. Menurut saya, itu tidak selalu benar. Bagi saya, iri justru merupakan tanda tidak bersyukur. Jika saja setiap manusia mensyukuri apa yang telah ia terima maka perasaan iri akan menjauh dari hidupnya. Justru ia semakin bisa bersukacita melihat keberhasilan orang lain.Jika seseorang senantiasa iri kepada orang lain maka energinya akan terbuang sia-sia dan ia tidak dapat melihat dengan jernih kesempatan yang menghampiri hidupnya. Orang yang iri, fokusnya berubah ke luar bukan ke dalam untuk melihat apa yang telah ia miliki (baik talenta mau pun kesempatan yang terbuka baginya).

  • Terus-menerus meniru orang lain.

Secara jujur harus saya akui bahwa saya juga pernah dihinggapi kecenderungan seperti ini sampai suatu hari seorang sahabat mengingatkan saya kalau tindakan itu akan mensabotase masa depan saya. Ya, saya harus menjadi diri saya yang terbaik. Bukan menjadi mesin fotokopi! Orang lain dapat menjadi sumber inspirasi bagi hidup saya namun saya tidak boleh menjiplak orang lain habis-habisan atau dalam istilah komputer copy paste. Sejak saat itu saya selalu mengukur perkembangan diri saya dengan diri saya di masa lalu. Apakah ada perkembangan diri saya ke arah yang lebih baik secara periodik (misalnya dari bulan ke bulan atau tahun ke tahun)?

  • Terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.

Yang saya maksudkan di sini adalah membandingkan diri dengan tujuan untuk menghina diri sendiri. Tentu ini bukan sikap yang bijaksana karena seringkali saya melihat orang membandingkan kelebihan orang lain dengan kekurangan dirinya. Sikap seperti ini hanya akan melahirkan perasaan minder berkelanjutan. Memang ada juga orang yang membandingkan diri dengan tujuan yang positif yakni agar memacu prestasi dirinya atau memotivasi dirinya menjadi lebih baik. Jika rumput tetangga kelihatan lebih hijau maka sudah saatnya kita merawat, menyiram dan memupuk rumput di halaman kita agar bisa sama hijau bahkan lebih hijau daripada rumput tetangga.

  • Terus-menerus hidup dalam kedagingan.

Jika seseorang hidup hanya untuk memuaskan hawa nafsunya, ia tidak akan pernah peduli dengan lingkungan sekitarnya. Tidak hanya itu, bisa jadi ia juga tidak akan peduli akan masa depannya. Yang terpenting bagaimana ia bisa senang atau memuaskan hasrat hatinya dengan menghalalkan segala cara. Hidup semata-mata hanya untuk menyenangkan diri sendiri. Sebaliknya, kepekaan akan lingkungan sekitar kerap kali membuat seseorang disadarkan bahwa ia memiliki talenta untuk menjawab kebutuhan atau masalah yang ada. Misalnya, ada mahasiswa yang merasa prihatin ketika melihat banyak siswa sekolah dasar di sekitar lingkungan kostnya yang kesulitan dalam pelajaran matematika. Ia pun meluangkan waktu untuk memberikan kursus matematika gratis. Pada saat kursus berjalan, ia baru menyadari bahwa ia memiliki talenta sebagai guru.

  • Tidak bersedia melangkah dalam ketaatan kepada Tuhan.

St. Agustinus berkata, “Iman artinya meyakini apa yang tidak kita lihat; dan upah dari iman adalah melihat apa yang kita yakini.” Perjalanan iman saya dan begitu banyak orang mengajarkan kalau Tuhan tidak pernah memberikan semuanya sekaligus. Ketika Ia memberikan sebuah visi bagi seseorang, tentu akan timbul pergumulan mampukah orang tersebut mencapainya? Bagaimana dengan aneka sumber daya yang dibutuhkan agar visi tersebut digenapi? Jika seseorang hanya berpangku tangan maka tidak akan ada perubahan sama sekali. Ketaatan adalah kunci penggenapan visi dari Tuhan. Ketika ia melangkah, ia akan melihat banyak sekali keajaiban-keajaiban hidup terjadi. Segala yang dibutuhkan itu akan hadir pada waktu yang tepat.

 

* Paulus Winarto adalah founder lembaga pelatihan non-profit HOT MINISTRY (www.hotministry.org). Ia merupakan pemegang 2 Rekor Indonesia dari Museum Rekor Indonesia (MURI) yakni sebagai pembicara seminar yang pertama kali berbicara dalam seminar di angkasa dan penulis buku yang pertama kali bukunya diluncurkan di angkasa. Sejumlah bukunya masuk dalam kategori best seller (al: First Step to be An Entrepreneur, Reach Your Maximum Potential, Be Strong, The Power of HOPE dan Melejit di Usia Muda). Ia banyak menimba ilmu kepemimpinan dari guru kepemimpinan internasional, Dr. John C Maxwell. Guru marketing Hermawan Kartajaya menjuluki Paulus sebagai “manusia kompleks”. Paulus dapat dihubungi melalui e-mail: pwinarto@cbn.net.id atau www.pauluswinarto.com.

No Comments
Jun 14

MAXIMIZE YOUR TALENT (01)

Published By martin under Free Resources, Melejit di Usia Muda  Tags: maximize talent, motivasi  

Oleh: Paulus Winarto*

A man’s gift maketh room for him, and bringeth him before great men.

– Proverbs 18:16 (NKJV)

Talenta. Kata ini seolah tidak akan pernah bisa dipisahkan ketika kita berbicara mengenai motivasi dan pengembangan diri. Talenta kerap dihubungan dengan potensi diri, bakat dan ketrampilan yang dibutuhkan agar seseorang dapat meraih keberhasilan dalam hidup. Sebenarnya apa itu talenta? Menurut kamus Alkitab kata talenta berarti ukuran jumlah uang yang sangat besar nilainya, yaitu 6.000 dinar. Di Israel sekitar 2.000 tahun silam biasanya seorang pekerja harian akan diberikan upah kerja sebesar 1 dinar per hari. Dengan demikian jika seseorang diberikan 1 talenta itu ibarat ia diberikan bekal hidup (upah) untuk 6.000 hari ke depan atau sekitar 16 tahun.

Nampaknya konsep talenta sebagai potensi diri bersumber dari perumpaman Yesus seperti dikutip dari Matius 25:14-30 yaitu perumpamaan tentang talenta. Berikut kutipannya:

25:14 “Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.

25:15 Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.

25:16 Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta.

25:17 Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta.

25:18 Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.

25:19 Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.

25:20 Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.

25:21 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

25:22 Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta.

25:23 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

25:24 Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.

25:25 Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!

25:26 Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?

25:27 Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.

25:28 Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu.

25:29 Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.

25:30 Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”

Ada begitu banyak pelajaran penting yang bisa kita petik dari perumpamaan di atas, antara lain:

  1. Pemberian talenta adalah tanda kepercayaan (Matius 25:14).

Saya menyakini bahwa setiap manusia diberikan tugas khusus ketika ia berada di dunia ini. Dan untuk melaksanakan tugas khusus itu ia memerlukan bekal berupa talenta tertentu. Tuhan tidak pernah memberikan manusia sebuah tugas tanpa memberikan manusia tersebut kemampuan untuk melaksanakannya. Manusia adalah rekan sekerja Tuhan di dunia ini. Manusia adalah co-creator yang bersama-sama dengan Tuhan menciptakan kehidupan yang lebih baik di muka bumi ini atau dengan kata lain menghadirkan kerajaan Allah di dunia ini.

  1. Setiap orang diberikan talenta sesuai dengan kesanggupannya (Matius 25:15).

Setiap manusia adalah unik, memiliki kelebihan sekaligus kekurangan masing-masing. Jika kita memperhatikan sebuah lift biasanya di dalam lift tersebut ada tulisan berapa kapasitas angkut lift tersebut yang dinyatakan dalam klilogram atau jumlah orang yang bisa diangkut. Nah, setiap manusia juga memiliki kapasitas tersebut. Kita patut bersyukur sebab Tuhan tahu dengan persis kapasitas kita masing-masing sehingga Ia mempercayakan sesuai dengan kesanggupan kita.

  1. Pengembangan talenta adalah sebuah pilihan.

Dalam perumpamaan tentang talenta kita melihat dengan jelas bahwa ada yang mengembangkannya (Matius 25:16-17) dan ada pula yang tidak mengembangkannya (Matius 25:18). Tuhan memberikan kita talenta namun di saat bersamaan Tuhan juga telah memberikan kepada kita kehendak bebas. Di dalam kehendak bebas ini termasuk kehendak untuk mengembangkan atau tidak mengembangkan talenta yang telah diberikan-Nya. Talenta itu ibarat otot yang jika tidak dilatih dan dikembangkan akan kendur. Ciri orang yang mengembangkan talenta adalah semakin hari ia akan semakin mahir dalam bidangnya dan semakin banyak orang yang diberkati oleh talenta yang ia kembangkan tersebut.

  1. Pengembangan talenta memerlukan sebuah proses.

Dalam perumpamaan tentang talenta kita melihat adanya ada rentang waktu antara pergi dan kembalinya sang tuan. Alkitab bahkan menegaskan ada rentang waktu yang lama (Matius 25:19). Rentang waktu ini dapat juga kita ibaratkan dengan rentang waktu hidup kita di dunia ini. Hidup memang hanya satu kali namun jika hidup yang hanya satu kali ini kita manfaatkan secara maksimal maka hidup ini akan sungguh indah. Kita tidak akan mengakhiri hidup dengan penuh penyesalan karena tidak melakukan atau belum melakukan banyak hal-hal yang bermakna. Tentu untuk mengembangkan talenta diperlukan sejumlah pengorbanan. Kita harus mau berpikir, berperilaku dan bertindak secara tepat. Hamba yang menerima satu talenta dalam perumpamaan ini kelihatan termasuk orang yang tidak berani ambil risiko sehingga memilih untuk bermalas-malasan saja.

  1. Pengembangan talenta akan melahirkan kesempatan promosi.

Ketika seseorang memutuskan untuk berkarir sebagai seorang professional, ia tentu berharap agar karirnya bisa terus berkembang dan suatu hari nanti ia akan dipromosikan ke jabatan baru yang lebih tinggi. Namun bagaimana seseorang dapat dipromosikan jika di posisi yang sekarang pekerjaanya tidak pernah beres? Misalnya target yang tidak pernah tercapai, kualitas kerja yang tidak konsisten atau bekerja tanpa mengindahkan peraturan perusahaan. Perumpamaan tentang talenta menekannya pentingnya kesetiaan terhadap apa yang telah dipercayakan pada kita saat ini, bukan saat nanti (Matius 25:20-23).

  1. Pada akhirnya, setiap orang harus mempertanggungjawabkan talenta yang telah diterima secara pribadi.

Pada bagian akhir perumpaan talenta kita bisa melihat bagaimana sang tuan meminta pertanggungjawaban atas kepercayaan yang telah ia berikan kepada setiap hamba-Nya. Kita juga melihat ada reward and punishment yang diberlakukan secara bijaksana oleh sang tuan. Apa yang kita tabur akan kita tuai! Berbahagialah kita jika sedari dini kita telah menyadari hal ini dan mempraktekkannya sehingga akan tiba harinya kita dapat berdiri tegak dan berkata kepada-Nya, “Terima kasih Tuhan atas kepercayaan yang telah engkau berikan. Biarlah Engkau senantiasa disenangkan oleh buah-buah kehidupan yang dihasilkan dari talenta yang Engkau karuniakan kepada saya.”

* Paulus Winarto adalah founder lembaga pelatihan non-profit HOT MINISTRY (www.hotministry.org). Ia merupakan pemegang 2 Rekor Indonesia dari Museum Rekor Indonesia (MURI) yakni sebagai pembicara seminar yang pertama kali berbicara dalam seminar di angkasa dan penulis buku yang pertama kali bukunya diluncurkan di angkasa. Sejumlah bukunya masuk dalam kategori best seller (al: First Step to be An Entrepreneur, Reach Your Maximum Potential, Be Strong, The Power of HOPE dan Melejit di Usia Muda). Ia banyak menimba ilmu kepemimpinan dari guru kepemimpinan internasional, Dr. John C Maxwell. Guru marketing Hermawan Kartajaya menjuluki Paulus sebagai “manusia kompleks”. Paulus dapat dihubungi melalui e-mail: pwinarto@cbn.net.id atau www.pauluswinarto.com.

No Comments
» Newer Entries

Paulus Winarto adalah pemegang 2 Rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk seminar dan peluncuran buku di angkasa. Ia dikenal sebagai motivational teacher, trainer, pembicara seminar, dosen luar biasa (Universitas Parahyangan Bandung), dosen kepemimpinan (Sespim Polri), dan penulis sejumlah buku motivasi dan pengembangan diri best seller Selengkapnya...
Leadership guru, John C. Maxwell and Paulus Winarto, talk about "The Power of Mentoring"  
  • Kategori
  • Tag
    Anak Muda artikel be strong Bisnis Buku Baru care career catatan Cinta Dampak Indonesia Inpirasi inspirasi intropeksi karakter Karir Keluarga Kepemimpinan kesaksian klip Koreksi Kristen kritik lagu leadership mama maximize talent memori mentor motivasi motivator New year Paulus Winarto pekerjaan Pilihan proses Refleksi Renungan seminar Success sukses talenta tanggung jawab Video work
  • Connect with Paulus Winarto


  • Popular Post

  • Archives
    • March 2019
    • February 2019
    • January 2019
    • April 2018
    • October 2017
    • August 2017
    • March 2017
    • February 2017
    • October 2016
    • September 2016
    • July 2016
    • May 2016
    • April 2016
    • March 2016
    • September 2015
    • March 2015
    • February 2015
    • November 2014
    • September 2014
    • August 2014
    • July 2014
    • June 2014
    • May 2014
    • March 2014
    • February 2014
    • December 2013
    • October 2013
    • August 2013
    • July 2013
    • May 2013
    • April 2013
    • January 2013
    • December 2012
    • November 2012
    • October 2012
    • September 2012
    • July 2012
    • May 2012
    • April 2012
    • March 2012
    • January 2012
    • December 2011
    • November 2011
    • October 2011
    • August 2011
    • July 2011
    • June 2011
    • May 2011
    • April 2011
    • March 2011
    • February 2011
    • December 2010
    • November 2010
    • September 2010
    • August 2010
    • July 2010
    • June 2010
    • December 2009
  • Blogroll
    • Aplikasi Video Kristen
    • Hidup dalam Misi
    • Hot Ministry
    • tangan pengharapan

  • Visitor
jasa social media By Indogosocial
Jasa Facebook Like | Jasa Twitter Follower
Copyright © 2026 Paulus Winarto All Rights Reserved.