Paulus Winarto

Paulus Winarto

John Maxwell Indonesia | Be The Best You Can Be

  • Home
  • About
  • Free Resources
    • Audio Lesson
    • Catatan Kecil
    • Free Article
    • My Spiritual Journey
    • Melejit di Usia Muda
    • Video
  • Event
  • Program Radio
  • Photo
  • Tes Talenta
  • Our Clients
  • Online Shop
  • Contact Us
You are here : Paulus Winarto » Tag for Renungan
Jun 10

Karir, Bisnis, atau Keluarga

Published By martin under Free Article, Free Resources  Tags: Bisnis, Karir, Keluarga, Renungan  

KARIR, BISNIS ATAU KELUARGA?

Oleh: Paulus Winarto *

Hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

– Buku Kehidupan

“Sama sekali tidak ada penyesalan di hati saya,” kata seorang mantan wanita karir kepada saya saat saya menanyakan apakah ada penyesalan setelah ia meninggalkan pekerjaannya demi mengasuh anaknya yang baru berusia lima bulan. Ketika saya tanyakan lebih lanjut, apa motivasi utama sehingga ia dengan tekad bulat mengucapkan selamat tinggal kepada karir yang telah dirintisnya sejak bertahun-tahun silam, dengan santai ia berujar, “Sekarang peran saya sudah berubah. Jadi buat apa disesali? Daripada saya di kantor tapi pikiran saya masih di rumah.”

Continue Reading »

No Comments
Jun 10

Antara Ya dan Tidak

Published By martin under Free Article, Free Resources  Tags: Inpirasi, motivasi, Renungan  

ANTARA YA DAN TIDAK

Oleh: Paulus Winarto*


Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak.

– The Son of Man

Baru-baru ini, seusai melakukan seminar non-profit untuk sebuah lembaga keagamaan dan memberikan training kepada sebuah bank swasta besar di Surabaya, kami sekeluarga pulang ke Bandung dengan menumpang pesawat Citilink.

Penerbangan yang diperkirakan akan ditempuh dalam waktu 1 jam 2 menit itu pada awal mula berlangsung sangat mulus. Cuaca yang cerah membuat kami yang duduk di dekat jendela dapat dengan mudah melihat langit yang biru dan gumpalan awan nan indah. Fenomena menarik semacam ini kerap membuat saya semakin mengagumi keagungan Sang Pencipta.

Continue Reading »

No Comments
Jun 10

Kesaksian Seorang Ayah

Published By martin under Free Article, Free Resources  Tags: Cerita Inpirasi, Inpirasi, motivasi, Renungan  

KESAKSIAN SEORANG AYAH:

ANTARA IMAN, HARAPAN DAN PEMAKSAAN KEHENDAK

Oleh; Paulus Winarto*


Thy will be done on earth as it is in heaven….

– The Lord’s Prayer

Tuhan yang memberi. Tuhan pula yang akan mengambil. Ajari kami Tuhan agar tetap percaya kalau kehendak-Mu adalah yang terbaik. Biarlah kehendak-Mu yang terjadi. Sekiranya Priscilla masih Engkau percayakan pada kami, maka kami akan mengasihinya tanpa syarat (unconditional love) dan akan mendidik dia sebaik-baiknya. Dia akan menjadi saksi kasih dan kemurahan hati-Mu di muka bumi ini. Namun bukan kehendak kami yang jadi. Kehendak-Mu-lah yang jadi. Terpujilah nama-Mu selamanya. Amin.

Doa sederhana dari hati yang tulus sebagaimana tertulis di atas adalah doa yang saya panjatkan berhari-hari lamanya menjelang operasi putri pertama kami, Priscilla Natali Winarto. Empat tahun kami menanti kehadiran seorang anak, dan ia lahir dalam keadaan prematur (34 minggu dengan berat badan 1,6 kg). Betapa kami sangat bersyukur dengan kelahirannya. Tidak hanya kami, begitu banyak saudara, sahabat, teman, dan kenalan yang bersukacita bersama kami. Saya masih ingat bagaimana saya kerepotan untuk membalas sekitar 700 pesan singkat (SMS) yang masuk ke handphone saya sampai-sampai handphone saya hang dan harus diinstall ulang. Alhasil semua datanya ikut hilang.

Sukacita atas kehadiran anggota baru di keluarga kami rupanya diiringi juga dengan ujian berat. Hari berganti hari, Priscilla masih dirawat di inkubator RS. Santo Borromeus Bandung. Dia diinfus dan setiap hari disuntik beberapa kali. Dokter mengdiagnosa ia terkena pneumonia. Syukur puji Tuhan, berkat pengobatan yang intensif, ia sembuh. Kami punya kerinduan sekaligus harapan Priscilla bisa segera pulang, paling tidak tanggal 20 Januari 2006 atau sebulan setelah ia lahir.

Namun Tuhan berkehendak lain, lagi-lagi kami mengalami ujian. Priscilla didiagnosa menderita kelainan saluran pembuluh darah di dekat jantungnya. Dalam dunia medis dikenal dengan istilah persistent ductus arteriousus (PDA) dan harus secepatnya dioperasi.

Ketika Priscilla berusia 37 hari, ia dilarikan dari RS. Santo Borromeus Bandung ke RS. Jantung Harapan Kita Jakarta dengan menggunakan ambulance. Ibu mertua dan istri saya, Maria Trifa Ermawati ikut dalam ambulance itu sedangkan saya, berserta ayah mertua serta seorang sahabat yang sudah seperti saudara mengikutinya dari belakang dengan kendaraan pribadi. Sambil menyetir mobil, saya terus berdoa dan berharap agar mukjizat terjadi atau ia bisa sembuh tanpa harus menjalani operasi. Kekhawatiran kemudian bercampur dengan ketakutan terus terbayang terutama saat kami mengingat dokter berkata, “Anak bapak terlalu kecil untuk dioperasi!”

Tapi, Tuhan berkehendak lain. Tanggal 30 Januari 2006 atau ketika ia berusia 41 hari ia harus menjalani operasi itu. Istri dan ibu mertua saya tak henti-hentinya meneteskan air mata ketika Priscilla dibawa masuk ke ruang operasi. Dokter Yusuf yang akan mengoperasi ketika berpapasan dengan kami sempat berkata, “Tolong dibantu dengan doa, pa.”

Dengan jujur saya harus mengakui bahwa baru 3 jam sebelum operasi pada hari itu, saya bisa merelakan Priscilla ke dalam tangan kasih Tuhan. Pada saat itu saya kuatkan iman saya kalau kehendak Tuhan adalah yang terbaik. Apapun yang terjadi nanti tentu baik di mata Tuhan. Saya teringat firman-Nya: Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Tiga jam sebelum operasi berlangsung, saya berlutut dan menangis tersedu-sedu di kamar mandi di kamar kost (di belakang RS Harapan Kita). Saya kemudian larut dalam doa penuh haru, ”Tuhan, jika tiga jam lagi Engkau akan panggil anak ini, terjadilah kehendak-Mu… Terjadilah kehendak-Mu. Dan Tuhan, sekalipun tiga jam lagi Engkau akan memanggil anak yang aku sangat kasihi ini, aku tetap mau bersyukur… aku tetap mau bersyukur karena paling tidak, empat puluh satu hari aku pernah menjadi seorang ayah. Terima kasih untuk empat puluh satu hari itu Tuhan. Terima kasih Tuhan… Amin.” Ketika saya berdiri, hati saya sudah benar-benar plong. Saya sepenuhnya sadar kalau otoritas hidup dan mati seseorang ada di tangan Tuhan, bukan manusia.

Pada saat itu, saya tidak lagi ”ngotot” kalau Priscilla pasti sembuh sebab saya tidak bisa menebak-nebak rencana Tuhan. Lagipula, belum tentu Tuhan menghendaki ia sembuh. Kitab Suci mengingatkan saya akan hal tersebut, ”Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”

Satu yang saya tahu: kehendak Tuhan adalah yang terbaik meski itu belum tentu menyenangkan hati umat-Nya. Itulah sebabnya, saya pernah berbisik lembut di telinga Priscilla, ”Priscilla sayang, jika nanti Tuhan memanggilmu dalam proses operasi itu, ayah hanya bisa berkata, terima kasih Tuhan buat 41 hari bersamamu dan Priscilla sayang, sampai ketemu nanti di surga…”

Puji Tuhan, operasi berlangsung mulus meski setelah itu selama beberapa hari Priscilla kehilangan suaranya. Seminggu kemudian, dia sudah diperbolehkan pulang. Artinya, tepat 48 hari ia berada di rumah sakit sejak hari kelahirannya. Selamat tinggal infus dan jarum suntik yang mengerikan bagi bayi dengan berat hanya 2,1 kg dan masih sangat mungil itu. Saya makin mengimani kalau Tuhan punya rencana besar bagi hidup Priscilla dan keluarga kami.

Kisah mengenai ketaatan dan kepasrahan kepada kehendak Tuhan juga saya dapatkan dari seorang sahabat. Dua tahun sejak pernikahan, keluarga ini dikaruniai seorang putra. Kebahagiaan bercampur kesedihan karena sang putra tercinta ini kemudian dipanggil pulang oleh Yang Mahakuasa tepat 41 hari kemudian. Ia mengalami kelainan pada bagian otak. Meski semua upaya terbaik telah dilakukan (al: tekun berdoa, berpuasa, operasi dan perawatan di rumah sakit) namun Tuhan berkehendak lain. ”Jalan Tuhan memang tak terselami,” katanya.

Dalam sebuah e-mail, sang ayah memberikan kesaksian imannya, ”Dokter berkata tidak ada harapan karena anak kami sudah masuk kategori ’lost case’. Kata dokter semua hanya buang waktu dan uang. Tapi kami percaya mukjizat Tuhan masih ada dan kami katakan kepada dokter kami hanya menunggu Tuhan melakukan mukjizat. Akhirnya Tuhan melakukan kehendak-Nya dan menjawab doa kami dengan kata TIDAK untuk kesembuhan putra kami. Tuhan penuh kasih buat kami. Dia menopang kami sehingga kami dapat melalui hari-hari kami dalam sukacita, sabar dan terus berharap.”

Ya, hidup memang penuh suka-duka. Ada pasang. Ada surut. Ada orang yang sungguh mencari Tuhan namun tidak sedikit yang datang kepada-Nya bukan dengan motif untuk mencari Dia namun mencari berkat-Nya (al: kesembuhan, berkat finansial dan hal lain yang dikehendaki hatinya).

Seorang sahabat yang baru saja menjalani operasi kanker payudara mengatakan, ”Saya terus mencari Tuhan dan berharap kesembuhan dari-Nya namun saya tidak mau memaksa Tuhan. Saya mengimani kalau kehendak-Nya adalah yang terbaik meski terkadang sangat sulit untuk bisa menerima hal tersebut dan bersukacita dalam penderitaan.” Bagaimana menurut Anda? ***

* Paulus Winarto adalah pemegang 2 Rekor Indonesia dari Museum Rekor Indonesia (MURI) yakni sebagai pembicara seminar yang pertama kali berbicara dalam seminar di angkasa dan penulis buku yang pertama kali bukunya diluncurkan di angkasa. Sejumlah bukunya masuk dalam kategori best seller (al: First Step to be An Entrepreneur, Reach Your Maximum Potential, Be Strong, Melejit di Usia Muda dan The Power of HOPE). Ia banyak menimba ilmu kepemimpinan dari guru kepemimpinan internasional, Dr. John C Maxwell. Guru marketing Hermawan Kartajaya menjuluki Paulus sebagai “manusia kompleks”. Paulus dapat dihubungi melalui e-mail: pwinarto@cbn.net.id atau www.pauluswinarto.com.

5 Comments
Dec 27

NEW YEAR NEW YOU?

Published By martin under Catatan Kecil, Free Resources  Tags: motivasi, New year, Renungan  

Oleh: Paulus Winarto*

Ada dua kompetisi terbesar dalam hidup ini. Pertama terjadi sebelum kita dilahirkan yakni pada saat proses pembuahan terjadi. Kita harus bersaing dengan ratusan juta sel sperma lainnya. Yang kedua, terjadi setelah kita lahir hingga kita menutup mata yakni kompetisi melawan diri sendiri dengan tujuan bertumbuh dan menjadi diri kita yang lebih baik.

Impian sekilas! Muncul dan menguap hanya dalam waktu sekejap. Dengan istilah yang paling kasar (maaf) seperti panas-panas tahi ayam. Itulah yang dialami oleh banyak sekali manusia di muka bumi ini pada saat momen pergantian tahun, termasuk diri saya dahulu.

Lihat saja kemeriahan malam pergantian tahun. Mulai dari pesta di mana-mana, kemacetan akibat begitu banyak kendaraan yang bersliweran di jalan raya maupun anak-anak muda yang sekedar nongkrong di pinggiran jalan raya, kembang api yang bertaburan menghiasi pekatnya malam, atau sekedar menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta di rumah hingga doa-doa yang dipanjatkan di rumah-rumah ibadah di malam istimewa itu.

Oh, jangan salah sangka dulu, sahabatku. Saya bukanlah orang yang anti segala jenis perayaan itu, apalagi anti berdoa. Hanya saja ada satu hal yang saya lihat senantiasa terjadi dari waktu ke waktu di masa transisi pergantian tahun itu. Lihat saja, harapan-harapan baru dilontarkan (dalam bentuk resolusi tahun baru), komitmen-komitmen baru dibuat, impian-impian tahun mendatang disusun. Kerap kali semuanya itu disambut dengan penuh optimisme dan kegembiraan bagi yang bersangkutan maupun orang-orang terdekatnya, seperti keluarga maupun sahabat-sahabat.

Ungkapan-ungkapan itu misalnya: tahun depan saya mau diet agar tahun depan bisa turun berat badan 15 kilogram. Saya ingin lebih banyak waktu bersama keluarga. Buku pertama saya akan terbit paling lambat pertengahan tahun depan. Saya akan memulai bisnis saya tahun depan. Dan masih banyak kalimat-kalimat positif penuh semangat mewarnai keceriaan malam pergantian tahun itu.

Pertanyaannya, bagaimana setelah itu? Yang mau diet hanya bertahan beberapa minggu di bulan Januari setelah itu berat badannya justru makin bertambah. Yang ingin lebih dekat keluarga justru semakin sibuk, bahkan hampir setiap hari bawa pulang PR (pekerjaan rumah yang sebenarnya PKalias pekerjaan kantor) ke rumah. Yang mau menulis buku, tidak juga mulai-mulai. Yang ada hanyalah khayalan tentang judul buku yang akan ditulis. Yang akan terjun berbisnis tetap saja berkutat dengan rasa takut dan tidak bersedia mengambil risiko. Apanya yang salah? Rasanya hal ini tidak perlu ditanyakan kepada rumput yang bergoyang. Introspeksi diri dengan penuh kesungguhan dapat menjadi jawaban atas pertanyaan krusial tersebut.

Perkenankanlah saya berbagai sedikit pengalaman dengan Anda. Ada beberapa hal yang patut dicermati di sini. Yang pertama, berbagai harapan, komitmen maupun impian yang dilontarkan di malam pergantian tahun biasanya bukan sungguh berasal dari hati yang paling dalam. Bisa jadi itu hanyalah sebatas angan-angan. Ya, bagi saya angan-angan tidaklah lebih dari gambaran selintas mengenai masa depan yang lebih baik. Angan-angan bisa terbentuk kapan saja dan pemicunya bisa macam-macam. Misalnya ketika melihat teman A pengen ini-itu di tahun mendatang, kita kemudian merasa “tertodong” atau setidaknya biar kelihatan keren, kita pun ikut melontarkan angan-angan kita.

Kedua, bisa jadi angan-angan tersebut memang lahir dari hati yang paling dalam sehingga telah menjadi visi bagi hidup kita. Visi adalah gambaran mengenai masa depan yang lebih baik yang membangkitan gairah atau semangat dalam diri seseorang. Sayangnya ketika visi itu muncul tidak dibarengi dengan perencanaan yang matang sehingga visi itu pun layu sebelum berkembang.

Momentum Pergantian Tahun

Sungguh, malam pergantian tahun sebenarnya bisa kita gunakan sebagai momentum menuju tahun baru yang lebih baik. Sehingga kita bisa berkata, new year new me, new year new you! Bagaimana caranya? Berikut ada beberapa tips yang kiranya berguna.

Pertama, beberapa hari menjelang akhir tahun, sediakan waktu yang cukup untuk melakukan refleksi. Jangan katakan Anda tidak punya waktu. Hidup Anda dan saya begitu penting jadi sudah sepantasnya dirancang dengan baik. Bukankah sebuah bangunan yang kokoh, indah dan megah juga harus dirancang sedemikian rupa? Bukankah proses merancang itu juga memerlukan sejumlah waktu? Dan, bukankah hidup kita jauh lebih berharga dari bangunan sebagus, semewah, sekokoh atau seantik apapun yang ada di dunia ini?

Lakukan refleksi itu dengan kesungguhan. Barangkali bisa dimulai dengan doa. Mensyukuri apa yang telah kita alami, dapatkan bahkan yang tidak kita dapatkan di tahun yang akan segera berlalu ini. Syukurilah semuanya itu. Jangan tenggelam dalam rasa penyesalan berkepanjangan jika ada hal-hal yang masih mengganjal. Tidak seorang manusia pun yang mampu kembali ke masa lalu. Masa lalu telah menjadi bagian sejarah hidup kita.

Evaluasilah perjalanan hidup kita. Pelajaran-pelajaran penting apa saja yang telah kita petik sepanjang tahun ini? Dalam hal apa kita telah bertumbuh menjadi lebih baik dan dalam hal apa saja kita ingin lebih baik lagi di tahun mendatang? Terobosan-terobosan baru apa saja yang mau kita lakukan di tahun mendatang?

Proses refleksi ini kerap kali memunculkan berbagai angan-angan. Tidak ada yang salah dengan angan-angan. Namun angan-angan itu perlu diperjelas dan diprioritaskan, mana saja yang akan kita kejar di tahun depan.

Kedua, diskusikan impian atau harapan-harapan Anda itu dengan orang-orang terdekat kita. Misalnya, suami atau istri, anak-anak, orang tua, mentor, rekan kerja hingga sahabat-sahabat terdekat Anda. Tentu semuanya harus proporsional. Jika itu menyangkut pekerjaan, bicarakan itu dengan rekan kerja di kantor (atasan, rekan sederajat atau bawahan). Jika itu menyangkut kehidupan keluarga dan profesional, diskusikan itu dengan pasangan hidup.

Mengapa diskusi ini perlu? Bisa jadi mereka akan menjadi bagian pendukung kita dalam mewujudkan impian tersebut. Bisa jadi, mereka jugalah yang akan merasakan dampak langsung dari terwujudnya impian kita itu. Misalnya, seorang suami perlu berdiskusi dengan istri mengenai impiannya untuk merintis bisnis (alias keluar dari pekerjaan sekarang) atau merenovasi rumah. Dari diskusi-diskusi inilah biasanya kita akan semakin menyadari mana impian yang benar-benar penting bagi kita.

Jangan pernah lupakan fakta ini, rasa sayang kita kepada orang-orang terdekat (terutama keluarga) seringkali menjadi motivator paling hebat agar kita lebih maju dalam hidup ini. Beberapa tahun belakangan ini, saya menulis buku jauh lebih serius agar dapat menjadi warisan yang berharga bagi anak cucu saya nantinya.

Ketiga, buat perencanaan alias susun strategi. Pertimbangkan harga yang harus kita bayar dan apakah kita bersedia membayar harga tersebut. Misalnya bagi yang akan menurunkan berat badan, tentu harus mengurangi porsi makan, ganti menu makanan hingga berolahraga secara teratur. Bagi yang akan menulis buku, harus lebih giat dalam studi literatur, melakukan sejumlah wawancara yang diperlukan hingga meluangkan waktu untuk menulis.

Terkadang orang dengan begitu mudah berhenti di tengah jalan karena tidak lagi bersedia membayar harga yang ternyata lebih besar dari yang diprediksi sebelumnya. Hal ini bisa diantisipasi dengan melihat mengapa impian tersebut penting. Kita bernapas karena bernapas penting. Nah, galilah faktor-faktor penting yang bisa menjadi pemicu dan pemacu kita untuk meraih impian di tahun mendatang. Seperti sudah saya sebutkan di atas, rasa sayang yang tulus bisa menjadi motivator luar biasa bagi kita.

Saya kerap menggunakan tabel seperti di bawah ini:

Tahun

Impian

Mengapa Impian Tersebut Penting

Strategi Untuk Mencapai Impian

2010

1.

2.

3.

4.

5.

 

Keempat, berjuang dan berdoa. Meski semua rencana telah disusun, kita toh tidak boleh melupakan satu faktor kunci penting yaitu doa. Ya, berjuang tanpa berdoa terkadang akan sangat melelahkan. Dalam perjuangan itu, tentulah kita juga tidak boleh kaku. Fleksibilitas akan menjadi hal yang sangat esensial di tengah proses perubahan ke arah lebih baik. Kadang kala kita memang harus mengganti metode. Kadang kala justru kita harus membiarkan sebuah impian berhenti di tengah jalan demi mencapai hal lain yang barangkali lebih baik. Kadang kala kita harus menempuh jalan balik (u turn).

Pada akhirnya, kita harus sadar, hidup inilah adalah pilihan dan tiap pilihan memiliki konsekuensi sendiri. Bahkan tidak memilih pun memiliki konsekuensi.

Selamat bertumbuh dan menjadi pribadi yang lebih baik agar hidup Anda dan saya dapat berguna bagi lebih banyak orang. Amin!

* Motivational Teacher dan Penulis Buku. Beralamat di www.pauluswinarto.com.

No Comments
» Newer Entries

Paulus Winarto adalah pemegang 2 Rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk seminar dan peluncuran buku di angkasa. Ia dikenal sebagai motivational teacher, trainer, pembicara seminar, dosen luar biasa (Universitas Parahyangan Bandung), dosen kepemimpinan (Sespim Polri), dan penulis sejumlah buku motivasi dan pengembangan diri best seller Selengkapnya...
Leadership guru, John C. Maxwell and Paulus Winarto, talk about "The Power of Mentoring"  
  • Kategori
  • Tag
    Anak Muda artikel be strong Bisnis Buku Baru care career catatan Cinta Dampak Indonesia Inpirasi inspirasi intropeksi karakter Karir Keluarga Kepemimpinan kesaksian klip Koreksi Kristen kritik lagu leadership mama maximize talent memori mentor motivasi motivator New year Paulus Winarto pekerjaan Pilihan proses Refleksi Renungan seminar Success sukses talenta tanggung jawab Video work
  • Connect with Paulus Winarto


  • Popular Post

  • Archives
    • March 2019
    • February 2019
    • January 2019
    • April 2018
    • October 2017
    • August 2017
    • March 2017
    • February 2017
    • October 2016
    • September 2016
    • July 2016
    • May 2016
    • April 2016
    • March 2016
    • September 2015
    • March 2015
    • February 2015
    • November 2014
    • September 2014
    • August 2014
    • July 2014
    • June 2014
    • May 2014
    • March 2014
    • February 2014
    • December 2013
    • October 2013
    • August 2013
    • July 2013
    • May 2013
    • April 2013
    • January 2013
    • December 2012
    • November 2012
    • October 2012
    • September 2012
    • July 2012
    • May 2012
    • April 2012
    • March 2012
    • January 2012
    • December 2011
    • November 2011
    • October 2011
    • August 2011
    • July 2011
    • June 2011
    • May 2011
    • April 2011
    • March 2011
    • February 2011
    • December 2010
    • November 2010
    • September 2010
    • August 2010
    • July 2010
    • June 2010
    • December 2009
  • Blogroll
    • Aplikasi Video Kristen
    • Hidup dalam Misi
    • Hot Ministry
    • tangan pengharapan

  • Visitor
jasa social media By Indogosocial
Jasa Facebook Like | Jasa Twitter Follower
Copyright © 2026 Paulus Winarto All Rights Reserved.