Kesadaran bahwa saya ini amat sangat kecil dan tak berarti dibanding alam semesta diperkuat melalui peristiwa perjumpaan saya dengan Dr. Moedji Raharto, Kepala Observatorium Boscha ITB di Lembang, Bandung. Suatu ketika saya pernah mewawancarai beliau soal Badai Meteor Leonid. Beliau mengajak saya jalan – jalan mengelilingi observatorium dan mencoba teleskop. “Alam semesta begitu luas. Maha Agung Tuhan. Apalah artinya kita manusia ini dibandingkan alam semesta. Hanya kesombonganlah yang membuat kita besar kepala,” nasihat Pak Moedji. Continue Reading »
Suatu ketika, saya bersama dengan pikiran yang nakal ini bertanya kepada seorang sahabat dekat yang juga seorang pastor. “Pastor, bisakah saya menjadi seorang pengikut Kristus (Kristiani) tanpa harus memeluk agama Kristen (Katolik tentu termasuk Kristen karena pengikut Kristus)?” tanya saya tanpa bermaksud menguji.
Sejenak ia menghela napas kemudian menjawab dengan tenang sambil menatap dalam mata saya. “Kalau kamu bertanya dan saya harus menjawab dalam kapasitas saya sebagai seorang pastor, tentu saya akan menjawab tidak. Namun jika kamu bertanya dan saya harus menjawab dalam kapasitas saya sebagai seorang sahabat, saya akan menjawab, bisa,” ujarnya penuh ketulusan. Continue Reading »
Sewaktu duduk di bangku SMP dulu, saya sempat merenungkan ucapan Pastor Remi Sene, SVD, soal doa sang tukang kayu dan doa sang petani. “Pada saat yang sama, di suatu pagi, keduanya berdoa kepada Tuhan. Tukang kayu minta agar Tuhan memberikan iklim panas terik agar ia dapat pergi ke hutan dan menebang kayu pada hari itu. Sedangkan petani berdoa minta hujan diturunkan hari itu agar padi yang ditanamnya dapat tumbuh subur,” kata pastor yang memang amat dekat dengan saya ini.
Continue Reading »
Konon suatu ketika Sang Budha pernah berkata, “Dunia ini penuh kesedihan. Dan akar dari semua kesedihan itu adalah keinginan.” Saya setuju dengan Budha. Tapi, seorang teman kemudian bertanya, “Apakah itu serta – merta berarti kita tak boleh punya cita – cita yang tinggi?” Dengan nada enteng saya memberikan jawaban versi saya. “Oh, tentu boleh. Malah hidup tanpa cita – cita membuat hidup kita hampa, tak punya arah tujuan. Bukankah hidup ini akan selalu bermakna kalau orang punya sesuatu yang ia perjuangkan dan seseorang yang ia cintai? Something to do and someone to love,” begitu reaksi saya.
Continue Reading »
Seorang raja yang adil di sebuah negeri datang menemui seorang pertapa. “Bapa, aku orang yang sangat sibuk dan selalu mencoba untuk hidup baik. Tapi aku rindu sekali berjumpa Tuhan. Bisakah Bapa menunjukkan padaku jalan menuju Tuhan dalam satu kalimat saja karena aku orang yang amat sibuk,” katanya, tulus. “Tuanku raja, aku akan menunjukkan kepada tuanku yang bijak, jalan menuju Tuhan. Tidak dalam satu kalimat, melainkan hanya dalam satu kata yaitu Silence. Keheningan,” jawab Sang Pertapa. Continue Reading »









