Paulus Winarto

Paulus Winarto

John Maxwell Indonesia | Be The Best You Can Be

  • Home
  • About
  • Free Resources
    • Audio Lesson
    • Catatan Kecil
    • Free Article
    • My Spiritual Journey
    • Melejit di Usia Muda
    • Video
  • Event
  • Program Radio
  • Photo
  • Tes Talenta
  • Our Clients
  • Online Shop
  • Contact Us
You are here : Paulus Winarto » Tag for Renungan
Jun 14

MAXIMIZE YOUR TALENT (05)

Published By martin under Free Resources, Melejit di Usia Muda  Tags: maximize talent, motivasi, Renungan  

Oleh: Paulus Winarto*

Sekarang mari kita bahas bagaimana cara mengembangkan talenta.

DEVELOP

John C. Maxwell pernah berkata kalau kebahagiaan sama dengan pertumbuhan (happiness is growth). Manusia yang terus bertumbuh adalah manusia yang bahagia. Keluarga yang bertumbuh adalah keluarga yang bahagia. Perusahaan yang terus bertumbuh adalah perusahaan yang bahagia. Menurut saya itu sangat tepat!

Kehidupan menyediakan begitu banyak kesempatan kepada manusia untuk terus bertumbuh. Barangkali kita kurang menyadari bahwa setiap pagi ketika kita bangun pagi kita selalu mempunyai peluang menjadi orang yang lebih baik daripada hari yang telah lewat.

Pertumbuhan bukanlah sesuatu yang otomatis terjadi seiring bertambahnya usia atau pengalaman seseorang. Pertumbuhan yangs sejati selalu diawali dengan komitmen untuk bertumbuh. Kitalah orang yang paling bertanggung jawab bagi pertumbuhan pribadi kita masing-masing.

Pertumbuhan akan membuat talenta yang kita miliki terus berkembang sehingga kita tidak perlu jadi orang yang sama dari waktu ke waktu. Berikut ini ada beberapa langkah yang dapat membantu kita semua untuk mengembangkan talenta kita:

  1. Terus mengasah talenta kita dengan terus belajar.

Diakui atau tidak rasa puas diri terkadang membuat seseorang berada di zona nyaman dan tidak mau lagi berubah. Agar hal itu tidak terjadi pada kita, biasakan diri kita untuk selalu lapar dan haus akan hal-hal baru. Terus terang secara pribadi terkadang saya agak jenuh juga membaca buku-buku pengembangan diri karena sudah lebih dari 500 buku saya lahap. Terkadang ketika membaca sebuah buku, hampir sebagian besar isinya saya sudah tahu namun saya tidak membaca buku tersebut dengan tujuan untuk mencari apa yang sudah saya tahu melainkan saya mencari hal-hal baru yang sama sekali belum saya ketahui. Terkadang buku yang saya baca itu juga bisa menjadi reminder yang sangat baik.

Jika kita memiliki semangat untuk terus belajar, carilah buku-buku yang dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan kita. Rajin-rajinlah ke toko buku atau perpustakaan. Ikuti berbagai pelatihan yang kiranya dapat membantu kita bertumbuh. Investasikan waktu dan dana kita. Ingat, tidak ada sukses tanpa pengorbanan. Pertumbuhan hari ini akan menjamin hari esok yang lebih baik.

  1. Komunitas tumbuh bersama.

Bergaullah dengan orang-orang yang memiliki talenta yang sama dengan kita sehingga bisa saling belajar, saling memotivasi atau sekedar saling bertukar informasi. Teknologi yang semakin canggih tentu akan sangat membantu karena kita dapat membentuk komunitas itu melalui dunia maya atau internet. Bergabunglah dengan mailing list yang anggotanya memiliki minat yang sama dengan minat yang kita miliki.

Juga perlu kita ingat bahwa tidak ada komunikasi yang lebih efektif daripada komunikasi tatap muka. Oleh sebab itu secara berkala bertemulah dengan orang-orang tersebut.

  1. Mentoring.

Setelah menemukan talenta kita, carilah juga mentor untuk membantu kita bertumbuh. Seorang mentor adalah seorang yang telah mencapai hal yang baru ingin kita capai atau ia telah memiliki kualitas-kualitas tertentu yang ingin kita miliki. Kita bisa belajar dari pengalaman, pengetahuan serta yang terpenting hikmat yang telah didapatkannya dari perjalanan hidup. Kunjungi mentor kita secara teratur atau undanglah ia makan. Sebelum itu, persiapkanlah hal-hal yang ingin Anda tanyakan dan diskusikan. Anda bisa menuliskan di sebuah buku dan jadikan buku tersebut buku mentoring Anda. Hal-hal penting dari mentor juga bisa Anda catat di buku tersebut.

Seorang teman bahkan memiliki kebiasaan yang sangat unik dan terbilang langka. Jika ia bertemu seseorang yang dianggapnya ahli, ia selalu berusaha agar belajar sesuatu. Nah, poin-poin yang dipelajarinya akan diketiknya, diprint dan dijadikan bahan untuk pengembangan diri. Kebiasaan itu telah dilakoninya sejak usia mahasiswa. Kini, ia telah menjadi seorang pengusaha sukses.

Jangan mencari satu mentor yang sempurna karena kita tidak akan pernah menemukannya. Carilah beberapa mentor sekaligus. Misalnya secara pribadi saya memiliki mentor dalam bidang rohani, bisnis, kreativitas, kepemimpinan, pemasaran, dsb.

Yang juga penting adalah binalah hubungan baik dengan sang mentor. Artinya jangan hanya menghubungi dia jika kita butuh. Ada saatnya kita harus menunjukkan kepedulian kepada mentor. Misalnya mengunjunginya saat ia sakit, memberikan hadiah kecil atau sekedar menelpon untuk menyapa dan mengucapkan selamat ulang tahun. Turutlah bersukacita bersama mentor Anda ketika ia bersukacita dan berikan penghiburan ketika ia sedang bersusah hati. Ingat, mentor juga manusia yang punya hati dan keinginan untuk senantiasa dikasihi.

Selain mencari mentor, ada baiknya juga kita menjadi mentor bagi mereka yang membutuhkan. Kalau kita membagikan apa yang kita ketahui kepada orang yang tepat, kita akan semakin terampil dalam bidang tersebut, semakin bijaksana dan semakin dihormati. Sebuah lilin tidak akan pernah kehilangan cahayanya ketika ia membagikan cahayanya kepada lilin yang lain. Bagi saya melihat orang lain bertumbuh karena saya adalah sebuah sukacita besar. Bagaimana dengan Anda?

  1. Milikilah mitra akuntabilitas.

Perjalanan hidup mengajarkan saya betapa ngerinya kultus individu. Dengan jelas kita bisa melihat banyak pemimpin jatuh karena tidak lagi memiliki orang di sekelilingnya yang berani memberikan masukan atau kritik yang sifatnya membangun. Para pemimpin tersebut dianggap sakti atau manusia yang serba sempurna.

Mitra akuntabilitas adalah orang yang mengasihi kita dan berani menegur kita secara terbuka jika kita melakukan kesalahan. Bisa jadi mereka ini adalah orang paling dekat dengan kita, seperti suami, istri, saudara atau sahabat-sahabat dekat kita. Apakah Anda memiliki seseorang yang berani berkata, “Kamu salah, harusnya kamu ngga begitu. Harusnya kamu begini…” Bisa jadi itu mitra akuntabilitas dalam hidup Anda. Bersyukurlah kepada Tuhan untuk kehadiran orang tersebut karena ia ibarat alarm peringatan atau lampu merah dalam hidup Anda.

Yesus pernah berkata, “Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu (Lukas 6:26).” Tanpa kita sadari terkadang pujian yang datang terus-menerus dari orang-orang di sekeliling kita akan membuat kita besar kepala dan lupa diri.

  1. Kembangkan sikap mental positif.

Sikap adalah sebuah pilihan. Sikap adalah bagaimana kita berpikir atau merespon sesuatu. Peristiwa yang sama bisa direspon secara berbeda oleh dua orang, itulah sikap.

Ada beberapa cara praktis agar kita dapat senantiasa menumbuhkan sikap mental positif dalam hidup kita, yaitu: baca buku-buku yang positif (terutama firman Tuhan), bergaullah dengan orang-orang yang positif, senantiasa bersyukur, luangkan waktu untuk melayani orang lain yang membutuhkan, ucapkan hal-hal positif kepada diri kita sendiri, bersikap hati-hati dan bijaksana terhadap masukan-masukan negatif (seperti kritikan tajam karena tidak semua orang mengkritik kita dengan motif untuk membantu kita bertumbuh).

* Paulus Winarto adalah founder lembaga pelatihan non-profit HOT MINISTRY (www.hotministry.org). Ia merupakan pemegang 2 Rekor Indonesia dari Museum Rekor Indonesia (MURI) yakni sebagai pembicara seminar yang pertama kali berbicara dalam seminar di angkasa dan penulis buku yang pertama kali bukunya diluncurkan di angkasa. Sejumlah bukunya masuk dalam kategori best seller (al: First Step to be An Entrepreneur, Reach Your Maximum Potential, Be Strong, The Power of HOPE dan Melejit di Usia Muda). Ia banyak menimba ilmu kepemimpinan dari guru kepemimpinan internasional, Dr. John C Maxwell. Guru marketing Hermawan Kartajaya menjuluki Paulus sebagai “manusia kompleks”. Paulus dapat dihubungi melalui e-mail: pwinarto@cbn.net.id atau www.pauluswinarto.com.

3 Comments
Jun 14

MAXIMIZE YOUR TALENT (04)

Published By martin under Free Resources, Melejit di Usia Muda  Tags: maximize talent, motivasi, Renungan  

Oleh: Paulus Winarto*

 

Saya kerap mengatakan kalau seseorang ini perjalanan hidupnya memilki arti, ia harus menempuh tiga tahap penting, yakni:

1.Menemukan talenta yang telah diberikan Tuhan kepadanya (discover).
2.Mengembangkan talenta tersebut (develop).
3.Membagikannya bagi hidup sesama (distribute).
Sekarang mari kita bahas satu per satu dari tiga tahap penting tersebut.

DISCOVER

Tahap menemukan talenta merupakan tahap yang tersulit. Dibutuhkan kepekaan yang sangat tinggi, terutama dalam menjalani setiap momen kehidupan kita agar sedini mungkin kita bisa mengetahui talenta kita.

Berikut ini adalah sejumlah pertanyaan penuntun yang barangkali dapat membantu kita untuk lebih mengenal talenta kita.

  • ·Kita bisa memulainya dari bidang yang benar-benar menarik minat kita sedari kita masih kecil. Apa saja mata pelajaran favorit kita sejak kecil? Apa saja hobi kita? Apa saja pekerjaan yang ketika kita lakukan kita betul-betul menikmatinya sampai-sampai kita sering lupa waktu (misalnya lupa makan)?
  • ·Kita juga bisa mengevaluasi perjalanan hidup kita dengan melihat prestasi-prestasi menonjol apa saja yang telah kita raih di masa lampau? Jika prestasi dalam bidang yang sama itu berkali-kali kita raih bisa jadi itu sungguh talenta kita.
  • ·Kita juga bisa mengevaluasi diri kita sendiri dengan melihat dalam bidang apa saja rasa ingin tahu kita paling menonjol. Rasa ingin tahu yang mendalam biasanya akan mendorong seseorang untuk terus mendalami bidang tersebut sehingga tanpa disadari ia akan bertumbuh dalam bidang tersebut.
  • ·Jika kita pernah gonta-ganti pekerjaan, kita bisa melakukan kilas balik dan bertanya kepada diri sendiri, dari semua pekerjaan tersebut, pekerjaan mana yang paling kita sukai? Pekerjaan mana yang kita paling efektif atau hasilnya paling bagus? Pekerjaan mana saja yang memberikan kepuasan tersendiri bagi kita? Terkadang perlu trial and error agar bisa sampai ke tempat yang tepat.
  • ·Cobalah meluangkan waktu untuk merenungkan pendapat-pendapat orang lain mengenai apa yang kita kerjakan. Adakah komentar-komentar positif mengenai pekerjaan yang kita lakukan? Dalam bidang apa saja suara kita lebih didengarkan daripada suara orang lain? Ini bisa jadi merupakan bentuk konfirmasi langsung atas talenta kita.
  • ·Jika sedang berbincang-bincang dengan orang lain, topik-topik pembicaraan apa saja yang paling menarik perhatian kita?
  • ·Di tengah rutinitas kita, barangkali pernah beberapa kali kita diminta melakukan suatu pekerjaan yang melelahkan yang cukup menyita waktu kita. Barangkali pekerjaan tersebut sifatnya sukarela namun kita mau melakukannya dengan penuh sukacita. Pekerjaan apa saja itu?
  • ·Dalam bidang pekerjaan atau aktivitas apa saja kita merasa menemukan makna hidup kita? Misalnya karena kita melihat pekerjaan kita memiliki arti penting bagi hidup sesama yang tidak bisa kita nilai dengan uang. Bisa jadi pekerjaan itu bernilai karena menjawab kebutuhan sesama yang tidak mungkin dipenuhinya sendiri.
  • ·Barangkali ini agak konyol, namun jika suatu waktu dalam hidup ini kita diberikan satu masa untuk melakukan suatu hal yang tidak mungkin akan gagal, apa yang mau kita lakukan?
  • ·Cobalah mengambil waktu yang cukup untuk berdoa dan bertanya kepada Tuhan mengenai kehendak-Nya bagi hidup kita masing-masing. Jalan ini memang tidak mudah namun sering kali adalah jalan yang paling efektif. Doa membuka banyak misteri bagi hidup manusia.

Dari pertanyaan-pertanyaan di atas, saya bisa menarik sebuah benang merah, yakni jika sebuah bidang pekerjaan sungguh merupakan talenta kita, akan terdapat beberapa ciri sebagai berikut:

 

  • Kita menyukai pekerjaan tersebut.
  • Kita mau melakukan pekerjaan tersebut meski tidak dibayar.
  • Kita merasakan kemudahan ketika melakukan pekerjaan tersebut.
  • Kita terus bertumbuh dalam pekerjaan tersebut.
  • Kita sering dipuji orang karena pekerjaan tersebut.
  • Kita bersemangat ketika membicarakan pekerjaan tersebut.
  • Kita sering lupa waktu ketika melakukan pekerjaan tersebut.
  • Kita merasa puas ketika melakukan pekerjaan tersebut.
  • Kita merasa bangga bisa melakukan pekerjaan tersebut.
  • Kita mudah mempengaruhi orang dalam (bidang) pekerjaan tersebut.

* Paulus Winarto adalah founder lembaga pelatihan non-profit HOT MINISTRY (www.hotministry.org). Ia merupakan pemegang 2 Rekor Indonesia dari Museum Rekor Indonesia (MURI) yakni sebagai pembicara seminar yang pertama kali berbicara dalam seminar di angkasa dan penulis buku yang pertama kali bukunya diluncurkan di angkasa. Sejumlah bukunya masuk dalam kategori best seller (al: First Step to be An Entrepreneur, Reach Your Maximum Potential, Be Strong,The Power of HOPE dan Melejit di Usia Muda). Ia banyak menimba ilmu kepemimpinan dari guru kepemimpinan internasional, Dr. John C Maxwell. Guru marketing Hermawan Kartajaya menjuluki Paulus sebagai “manusia kompleks”. Paulus dapat dihubungi melalui e-mail: pwinarto@cbn.net.id atau www.pauluswinarto.com.

 

No Comments
Jun 14

MAXIMIZE YOUR TALENT (03)

Published By martin under Free Resources, Melejit di Usia Muda  Tags: maximize talent, motivasi, Renungan  

Oleh: Paulus Winarto*

Menemukan talenta adalah sebuah hal dan mengembangkannya adalah hal yang lain lagi. Tidak ada kepastian jika seseorang telah menemukan talentanya ia akan mengembangkannya juga. Bagi saya mengembangkan talenta adalah sebuah perjalanan yang menyenangkan karena kita bisa melihat sejauh mana hidup kita berarti dan bisa jadi kita akan terkagum-kagum pada diri kita sendiri.

Orang yang tidak mengembangkan talenta menurut saya adalah orang yang mencuri atau mensabotase dirinya sendiri, mencuri manfaat yang bisa didapatkan oleh orang lain dan mencuri kemuliaan Tuhan.

Sebagai ilustrasinya bayangkan suatu hari saya berkunjung ke rumah Anda dan Anda menyuguhkan saya buah mangga yang manis dari kebun di belakang rumah Anda. Tak henti-hentinya dengan antusias Anda bercerita mengenai pohon mangga yang berbuah lebat di belakang rumah Anda. Pohon itu usianya sudah belasan tahun.

Saya kemudian penasaran lalu meminta ijin kepada Anda untuk membawa satu biji mangga pulang ke rumah. Tidak hanya itu, saya juga minta diberikan sedikit pengetahuan bagaimana cara menanam dan merawat pohon mangga tersebut. Di luar dugaan Anda begitu murah hati. Tidak hanya pengetahuan, Anda juga memberikan saya pupuk yang Anda pakai untuk pohon mangga Anda tersebut.

Dengan penuh antusias, keesokan harinya saya menanam biji mangga itu di halaman depan rumah saya. Semua aturan yang diberikan saya patuhi. Saya juga rajin menyiram dan memupukinya. Sayangnya bulan demi bulan berlalu dan biji mangga tersebut tidak juga tumbuh. Ternyata bij mangga tersebut dari awal telah bertekad untuk tidak mau tumbuh menjadi pohon. Bukankah ini berarti bahwa ia mensabotase sendiri potensi yang ia miliki?

Biji mangga itu memilih untuk mati sebagai biji mangga. Alhasil impian saya untuk mendapatkan sebuah pohon mangga yang berbuah lebat dan manis-manis hanya tinggal impian. Tadinya saya berpikir jika pohon mangga itu berbuah, saya tentu bisa membagikan buah-buah mangga itu kepada tetangga, saudara serta sahabat-sahabat saya. Ini adalah manfaat yang bisa saya dan orang lain rasakan jika biji mangga itu tumbuh dan berbuah. Sayangnya, manfaat itu tidak kami terima. Ini yang saya namakan mencuri manfaat yang bisa diterima sesama jika kita tidak mengembangkan talenta kita.

Di samping itu jika saja pohon mangga itu berbuah banyak dan manis-manis tentu saya sebagai pemiliknya akan bangga. Saya akan menerima pujian dari orang-orang yang menikmati betapa lezatnya buah mangga dari pohon saya. Bandingkan dengan talenta yang kita miliki sebagai pemberian Tuhan. Talenta tersebut adalah milik Tuhan dan jika kita dengan setia mengembangkannya Tuhan akan dipermuliakan. Itulah sebabnya orang yang tidak mengembangkan talenta mencuri kemuliaan Tuhan.

PERJALANAN HIDUP YANG SEBENARNYA

Pernahkah Anda berada di sebuah kota yang baru pertama kali Anda datangi dan Anda sama sekali tidak tahu seluk-beluk jalan di kota tersebut. Saat itu Anda sedang mencari Jalan Pahlawan dan entah beberapa kali Anda berjalan kaki mondar-mandir hingga kaki Anda terasa begitu pegal. Lalu Anda memutuskan untuk bertanya kepada orang di warung, di mana letak Jalan Pahlawan. Di luar dugaan, orang di warung tersebut mengatakan bahwa jalan ini alias jalan tempat Anda sekarang berada adalah Jalan Pahlawan.

Jika hal tersebut benar-benar Anda alami, bagaimana perasaan Anda? Pertama, Anda mungkin merasa jengkel karena dari tadi Anda sebenarnya sudah berada di jalan yang Anda cari. Namun yang kedua, Anda tentu merasa senang sebab pencarian panjang Anda telah berakhir.

Hal yang sama kerap terjadi dalam hidup ini. Bertahun-tahun hidup kita habiskan untuk menemukan di jalan mana semestinya kita berada. Terkadang pada saat tertentu kita merasa “kayaknya hidup saya bukan di sini, deh”. Lalu kita memutuskan untuk banting setir dan mencari kehidupan lainnya, bentuknya bisa pekerjaan baru, memulai bisnis baru atau pindah jurusan pada waktu kuliah.

Pencarian seperti itu bisa berlangsung berkali-kali sampai suatu ketika kita merasa benar-benar cocok dengan pekerjaan yang kita geluti. Pada saat itu hati kita akan riang-gembira. Kita tidak lagi merasa terbeban ketika melakukan aktivitas tersebut. Saya menyebut ini sebagai momen eureka. Ya, eureka karena pencarian terbesar dalam hidup kita telah menemukan hasilnya.

Perjalanan hidup yang sesungguhnya barangkali baru kita mulai ketika kita tahu dengan pasti talenta yang kita miliki. Talenta yang kita miliki adalah bekal terpenting untuk menggenapi tujuan hidup kita di dunia ini. Tujuan itu sebenarnya sudah ada sejak kita diciptakan oleh-Nya.

Dengan menemukan talenta, hidup kita memiliki arah yang jelas. Kita tahu dalam area mana saja kita harus menfokuskan hidup kita. Kita akan lebih mudah menentukan prioritas dalam keseharian hidup kita sehingga kita tidak diombang-ambingkan ke sana ke mari.

Saya kerap mengatakan kalau seseorang ini perjalanan hidupnya memilki arti, ia harus menempuh tiga tahap penting, yakni:

  1. Menemukan talenta yang telah diberikan Tuhan kepadanya (discover).
  2. Mengembangkan talenta tersebut (develop).
  3. Membagikannya bagi hidup sesama (distribute).

* Paulus Winarto adalah founder lembaga pelatihan non-profit HOT MINISTRY (www.hotministry.org). Ia merupakan pemegang 2 Rekor Indonesia dari Museum Rekor Indonesia (MURI) yakni sebagai pembicara seminar yang pertama kali berbicara dalam seminar di angkasa dan penulis buku yang pertama kali bukunya diluncurkan di angkasa. Sejumlah bukunya masuk dalam kategori best seller (al: First Step to be An Entrepreneur, Reach Your Maximum Potential, Be Strong, The Power of HOPE dan Melejit di Usia Muda). Ia banyak menimba ilmu kepemimpinan dari guru kepemimpinan internasional, Dr. John C Maxwell. Guru marketing Hermawan Kartajaya menjuluki Paulus sebagai “manusia kompleks”. Paulus dapat dihubungi melalui e-mail: pwinarto@cbn.net.id atau www.pauluswinarto.com.

No Comments
Jun 14

MAXIMIZE YOUR TALENT (02)

Published By martin under Free Resources, Melejit di Usia Muda  Tags: maximize talent, motivasi, Renungan  

Oleh: Paulus Winarto*

 

Sekarang mari kita bicara lebih jauh mengenai talenta dalam kehidupan setiap manusia. Untuk selanjutnya, kata talenta lebih saya maksudkan sebagai potensi diri. Secara pribadi, saya percaya bahwa setiap manusia memiliki talenta. Tentu setiap orang memiliki talenta yang berbeda-beda. Secara umum, talenta dapat kita bagi dalam tiga kelompok besar, yaitu:

1. Bakat alam (natural talent).

Bakat alam ini sudah dibawa sejak seseorang lahir ke dunia ini. Bakat alam seorang anak biasanya telah terlihat dengan jelas ketika ia masih kanak-kanak. Pernahkah Anda melihat seorang anak berumur tiga tahun yang suka sekali bernyanyi padahal ia belum fasih mengucapkan kata-kata dengan benar? Atau seorang anak kecil yang selalu dengan mudah menarik perhatian anak-anak lainnya (yang semula belum dikenalinya) jika berada di tempat umum?

2. Ketrampilan (skill).

Dalam hidup ini ada banyak sekali ketrampilan yang bisa kita pelajari, misalnya menyetir mobil, mengoperasikan sebuah mesin, atau menggunakan computer. Ketrampilan-ketrampilan seperti ini biasanya bisa kita dapatkan lewat proses pembelajaran, seperti lewat pengalaman pribadi, atau mengikuti kursus-kursus atau kita dibimbing oleh seorang mentor yang handal sehingga kita pun memiliki ketrampilan seperti mentor tersebut.

3. Karunia rohani (spiritual gift).

Berbeda dengan bakat alam dan ketrampilan, karunia rohani tidak kita dibawa sejak lahir. Karunia rohani biasanya diberikan ketika seseorang sungguh bertobat dan menyerahkan hidupnya untuk melayani Tuhan. Ia tidak lagi mencari pujian untuk dirinya namun ingin menyatakan kebesaran dan kemuliaan Tuhan melalui karya nyata dalam hidupnya. Jika seseorang menerima karunia rohani dan terus mengembangkannya maka dampaknya akan sangat luar biasa dan sering di luar jangkauan pikiran manusia sebab Tuhan berkarya secara nyata. Ada beberapa buku yang secara detil membahas mengenai karunia rohani (dan memberikan alat bantu berupa tes untuk mengetahui karunia rohani), misalnya Understanding Your Spiritual Gifts (Dr. Bruno Caporrimo) dan Mengenal Karunia Roh Kudus (Kenneth E. Hagin).

HAMBATAN PENEMUAN TALENTA

Meski setiap manusia diberikan talenta yang khusus namun terkadang sangatlah tidak mudah bagi seseorang untuk mengetahui secara jelas apa saja talenta dalam hidupnya. Barangkali itu pula sebabnya seorang remaja kerap mengalami kebingungan ketika ia akan memilih jurusan saat di sekolah menengah umum (SMU) atau memilih jurusan ketika akan masuk perguruan tinggi. Terkadang baru pada saat usia lanjut seseorang bisa secara persis mengetahui talenta hidupnya.

Memang menemukan talenta itu tidak mudah bagi sebagian besar manusia. Berbagai macam tes, termasuk psikotes hingga tes minat dan bakat terkadang bisa membantu namun tidak selalu akurat. Di sisi lain ada sejumlah hambatan yang akan semakin mempersulit bagi seseorang untuk menemukan talentanya, seperti:

  • Tidak mau menerima diri apa adanya.

Ada banyak hal dapat hidup ini yang bisa kita ubah namun ada juga hal yang tidak bisa kita ubah. Khusus untuk hal-hal yang tidak bisa kita ubah, kita harus menerimanya. Jika tidak, kita akan terus dilanda perasaan minder atau bahkan penghakiman terhadap diri sendiri. Sungguh, adalah sebuah langkah besar dan berani dalam hidup setiap manusia ketika ia mulai bisa melihat secara jelas kelebihan serta kekurangannya, kemudian berkomitmen untuk mengembangkan kelebihannya serta menerima kekurangannya. Saya selalu percaya, Tuhan tidak pernah menutup satu pintu tanpa Ia membuka pintu lainnya. Sayangnya, manusia kerap terpaku dan menangisi pintu yang telah tertutup itu sehingga ia tidak sempat melihat pintu lain yang telah dibukakan baginya.

  • Terus-menerus iri kepada orang lain.

Barangkali Anda pernah melihat orang yang senantiasa memberikan komentar negatif terhadap prestasi yang diraih oleh orang lain. Komentar negatif ini bisa jadi timbul dari rasa iri. Ada yang berkata kalau iri adalah tanda tidak mampu. Menurut saya, itu tidak selalu benar. Bagi saya, iri justru merupakan tanda tidak bersyukur. Jika saja setiap manusia mensyukuri apa yang telah ia terima maka perasaan iri akan menjauh dari hidupnya. Justru ia semakin bisa bersukacita melihat keberhasilan orang lain.Jika seseorang senantiasa iri kepada orang lain maka energinya akan terbuang sia-sia dan ia tidak dapat melihat dengan jernih kesempatan yang menghampiri hidupnya. Orang yang iri, fokusnya berubah ke luar bukan ke dalam untuk melihat apa yang telah ia miliki (baik talenta mau pun kesempatan yang terbuka baginya).

  • Terus-menerus meniru orang lain.

Secara jujur harus saya akui bahwa saya juga pernah dihinggapi kecenderungan seperti ini sampai suatu hari seorang sahabat mengingatkan saya kalau tindakan itu akan mensabotase masa depan saya. Ya, saya harus menjadi diri saya yang terbaik. Bukan menjadi mesin fotokopi! Orang lain dapat menjadi sumber inspirasi bagi hidup saya namun saya tidak boleh menjiplak orang lain habis-habisan atau dalam istilah komputer copy paste. Sejak saat itu saya selalu mengukur perkembangan diri saya dengan diri saya di masa lalu. Apakah ada perkembangan diri saya ke arah yang lebih baik secara periodik (misalnya dari bulan ke bulan atau tahun ke tahun)?

  • Terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.

Yang saya maksudkan di sini adalah membandingkan diri dengan tujuan untuk menghina diri sendiri. Tentu ini bukan sikap yang bijaksana karena seringkali saya melihat orang membandingkan kelebihan orang lain dengan kekurangan dirinya. Sikap seperti ini hanya akan melahirkan perasaan minder berkelanjutan. Memang ada juga orang yang membandingkan diri dengan tujuan yang positif yakni agar memacu prestasi dirinya atau memotivasi dirinya menjadi lebih baik. Jika rumput tetangga kelihatan lebih hijau maka sudah saatnya kita merawat, menyiram dan memupuk rumput di halaman kita agar bisa sama hijau bahkan lebih hijau daripada rumput tetangga.

  • Terus-menerus hidup dalam kedagingan.

Jika seseorang hidup hanya untuk memuaskan hawa nafsunya, ia tidak akan pernah peduli dengan lingkungan sekitarnya. Tidak hanya itu, bisa jadi ia juga tidak akan peduli akan masa depannya. Yang terpenting bagaimana ia bisa senang atau memuaskan hasrat hatinya dengan menghalalkan segala cara. Hidup semata-mata hanya untuk menyenangkan diri sendiri. Sebaliknya, kepekaan akan lingkungan sekitar kerap kali membuat seseorang disadarkan bahwa ia memiliki talenta untuk menjawab kebutuhan atau masalah yang ada. Misalnya, ada mahasiswa yang merasa prihatin ketika melihat banyak siswa sekolah dasar di sekitar lingkungan kostnya yang kesulitan dalam pelajaran matematika. Ia pun meluangkan waktu untuk memberikan kursus matematika gratis. Pada saat kursus berjalan, ia baru menyadari bahwa ia memiliki talenta sebagai guru.

  • Tidak bersedia melangkah dalam ketaatan kepada Tuhan.

St. Agustinus berkata, “Iman artinya meyakini apa yang tidak kita lihat; dan upah dari iman adalah melihat apa yang kita yakini.” Perjalanan iman saya dan begitu banyak orang mengajarkan kalau Tuhan tidak pernah memberikan semuanya sekaligus. Ketika Ia memberikan sebuah visi bagi seseorang, tentu akan timbul pergumulan mampukah orang tersebut mencapainya? Bagaimana dengan aneka sumber daya yang dibutuhkan agar visi tersebut digenapi? Jika seseorang hanya berpangku tangan maka tidak akan ada perubahan sama sekali. Ketaatan adalah kunci penggenapan visi dari Tuhan. Ketika ia melangkah, ia akan melihat banyak sekali keajaiban-keajaiban hidup terjadi. Segala yang dibutuhkan itu akan hadir pada waktu yang tepat.

 

* Paulus Winarto adalah founder lembaga pelatihan non-profit HOT MINISTRY (www.hotministry.org). Ia merupakan pemegang 2 Rekor Indonesia dari Museum Rekor Indonesia (MURI) yakni sebagai pembicara seminar yang pertama kali berbicara dalam seminar di angkasa dan penulis buku yang pertama kali bukunya diluncurkan di angkasa. Sejumlah bukunya masuk dalam kategori best seller (al: First Step to be An Entrepreneur, Reach Your Maximum Potential, Be Strong, The Power of HOPE dan Melejit di Usia Muda). Ia banyak menimba ilmu kepemimpinan dari guru kepemimpinan internasional, Dr. John C Maxwell. Guru marketing Hermawan Kartajaya menjuluki Paulus sebagai “manusia kompleks”. Paulus dapat dihubungi melalui e-mail: pwinarto@cbn.net.id atau www.pauluswinarto.com.

No Comments
Jun 14

CATATAN SEWINDU PERNIKAHAN KAMI

Published By martin under Catatan Kecil, Free Resources  Tags: Keluarga, kesaksian, Pernikahan, Renungan  

Oleh: Paulus Winarto*

Tanggal 20 Januari selalu menjadi sesuatu yang istimewa bagi keluarga kami. Istimewa sebab delapan tahun silam atau 20 Januari 2002, saya menikahi istri saya Maria Trifa Ermawati. Tidak terasa kini pernikahan kami telah memasuki usia sewindu.

Banyak pengalaman yang kami lalui bersama. Suka duka kami lewati bersama dengan selalu mengandalkan dan berserah kepada Sang Maha Pengasih. Teringat bagaimana ketika menikah kami hanya mampu mengontrak sebuah kamar di sebuah gang kecil di kawasan Dago Atas. Ukuran kamarnya sekitar 3 x 3,5 m2. Kalau musim hujan suka bocor-bocor. Tapi kami tidak pernah mengeluh. Semua kami jalani dengan penuh rasa syukur.

Begitu pun ketika usia pernikahan kami memasuki tahun ketiga. Saat itu kami belum juga dikarunia anak. Sempat terlintas di pikiran saya untuk mengadopsi anak. Saya sendiri pernah mencari informasi tentang aturan mengadopsi anak. Ada rencana untuk membicarakan niat ini dengan istri pada saat yang tepat. Namun sebelum niat itu terlaksana, kami mengalami mukjizat.

Suatu ketika, kami hadir dalam sebuah KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani). Saat itu kami didoakan oleh seorang hamba Tuhan agar bisa memiliki anak. Doa kami terkabul. Di usia perkawinan yang menjelang 4 tahun, anak pertama kami lahir (Priscilla Natali Winarto). Priscilla sungguh merupakan anak mukijzat bagi keluarga kami. Bagaimana tidak? Berbagai macam ujian pernah dialaminya di awal usianya. Mulai dari pneunomia hingga operasi jantung saat usianya baru 41 hari. Priscilla lahir prematur (8 bulan) dengan berat hanya 1,6 kilogram dan pada saat operasi jantung itu, beratnya baru 2,1 kilogram.

Hampir dua setengah tahun kemudian, anak kedua kami lahir (Timothy Stanley Winarto). Akhirnya kami diberikan sepasang anak (perempuan dan laki). Tuhan memang membuat semuanya indah pada waktu-Nya.

Tahun 2008 lalu, istri saya sempat hamil lagi namun ketika kandungan berusia 2 bulan akhirnya dikatahui bahwa kandungan kosong alias tanpa janin (blighted ovum). Hal ini membuat kami semakin menyadari kemahakuasaan Tuhan. Kalau Dia berkehendak memberi, Dia akan memberi pada waktu-Nya. Namun jika tidak, kita sebagai makhluk ciptaan-Nya tidak sepantasnya memaksa, apalagi marah.

Tanpa ragu-ragu saya mengakui bahwa istri saya adalah motivator bagi saya. Saya mengenalnya sejak masih duduk di bangku SMA. Pertama kali bertemu, saat saya dirawat di Rumah Sakit Borromeus Bandung akibat infeksi tulang belakang. Dia sungguh teruji mengasihi saya. Dia tetap bersama saya sejak saya masih miskin dan susah. Dia wanita yang tidak menuntut ini-itu.

Beberapa waktu lalu saya pernah berujar kepadanya, “Jika saya reinkarnasi itu ada dan saya diperkenankan oleh Sang Pemberi Hidup untuk memilih pasangan hidup saya pada kehidupan berikutnya, tentu saya akan memilih kamu.” Dia cuma tersenyum ketika hal itu saya sampaikan namun setidaknya saya yakin dia tahu isi hati saya dari ungkapan sederhana itu.

Pernikahan kami bukanlah pernikahan tanpa konflik. Terkadang kami bertengkar karena hal-hal kecil yang kemudian kami sesali. Istri saya yang lebih sering mengalah. “Kalau ngga ada yang mau mengalah semuanya akan jadi sulit,” katanya.

Pengalaman sebagai anak broken home makin menyadarkan saya betapa pentingnya menjaga keharmonisan pernikahan. Saya sangat setuju dengan pernyataan Phil Passon bahwa pernikahan yang berhasil adalah pernikahan yang bisa melalui krisis demi krisis dengan tingkat komitmen yang semakin bertumbuh (a successful mariage is one that can go from crisis to crisis with a growth in commitment).

Di ujung kehidupan ini, saya ingin sekali mendengar istri saya bisa berkata bahwa saya adalah suami yang baik dan anak-anak saya bisa berujar bahwa saya adalah ayah yang baik. Kerinduan hati yang terdalam inilah yang membuat saya terus berjuang dan berdoa agar dapat menjadi yang terbaik bagi keluarga. Mengutip yang dikatakan oleh lagu sinetron Keluarga Cemara: harta yang paling berharga adalah keluarga. Ya, buat apa orang memiliki semuanya namun ia kehilangan rasa sayang dan hormat dari orang-orang yang paling dekat dengannya?

Akhirnya, ijinkan hati ini mengungkap rasa syukur yang tidak terhingga:

Terima kasih Tuhan untuk segala kasih dan kebaikan-Mu yang boleh kami rasakan sebagai keluarga. Peliharalah kami selalu dengan kasih sayang-Mu. Berikanlah kami selalu perkenanan dan kasih karunia-Mu agar keluarga kami boleh menjadi teladan dan inspirasi bagi banyak orang. Jadikanlah keluarga kami yang sederhana ini saluran kasih-Mu bagi sesama yang membutuhkan kami. Amin.

*author, trainer and teacher. Beralamat di www.pauluswinarto.com

No Comments
Older Entries «
» Newer Entries

Paulus Winarto adalah pemegang 2 Rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk seminar dan peluncuran buku di angkasa. Ia dikenal sebagai motivational teacher, trainer, pembicara seminar, dosen luar biasa (Universitas Parahyangan Bandung), dosen kepemimpinan (Sespim Polri), dan penulis sejumlah buku motivasi dan pengembangan diri best seller Selengkapnya...
Leadership guru, John C. Maxwell and Paulus Winarto, talk about "The Power of Mentoring"  
  • Kategori
  • Tag
    Anak Muda artikel be strong Bisnis Buku Baru care career catatan Cinta Dampak Indonesia Inpirasi inspirasi intropeksi karakter Karir Keluarga Kepemimpinan kesaksian klip Koreksi Kristen kritik lagu leadership mama maximize talent memori mentor motivasi motivator New year Paulus Winarto pekerjaan Pilihan proses Refleksi Renungan seminar Success sukses talenta tanggung jawab Video work
  • Connect with Paulus Winarto


  • Popular Post

  • Archives
    • March 2019
    • February 2019
    • January 2019
    • April 2018
    • October 2017
    • August 2017
    • March 2017
    • February 2017
    • October 2016
    • September 2016
    • July 2016
    • May 2016
    • April 2016
    • March 2016
    • September 2015
    • March 2015
    • February 2015
    • November 2014
    • September 2014
    • August 2014
    • July 2014
    • June 2014
    • May 2014
    • March 2014
    • February 2014
    • December 2013
    • October 2013
    • August 2013
    • July 2013
    • May 2013
    • April 2013
    • January 2013
    • December 2012
    • November 2012
    • October 2012
    • September 2012
    • July 2012
    • May 2012
    • April 2012
    • March 2012
    • January 2012
    • December 2011
    • November 2011
    • October 2011
    • August 2011
    • July 2011
    • June 2011
    • May 2011
    • April 2011
    • March 2011
    • February 2011
    • December 2010
    • November 2010
    • September 2010
    • August 2010
    • July 2010
    • June 2010
    • December 2009
  • Blogroll
    • Aplikasi Video Kristen
    • Hidup dalam Misi
    • Hot Ministry
    • tangan pengharapan

  • Visitor
jasa social media By Indogosocial
Jasa Facebook Like | Jasa Twitter Follower
Copyright © 2026 Paulus Winarto All Rights Reserved.